Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Februari 2010

”Bacterial Computers” untuk Menuntaskan Permasalahan Matematika yang Rumit


Para peneliti Amerika Serikat telah menciptakan ‘bacterial computers’ yang berpotensi untuk menuntaskan permasalahan matematika yang rumit. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa mengkomputerkan sel – sel hidup sangatlah mungkin, dengan membuka pintu sejumlah aplikasi. Generasi kedua bacterial computers mengilustrasikan kemnungkinan perluasan pendekatan hingga tantangan permasalahan matematika secara komputerisasi.


Sebuah tim peneliti yang terdiri dari empat anggota fakultas dan 15 mahasiswa S-1 dari departemen biologi dan matematika di Universitas Missouri Western State di Kampus Missouri dan Davidson di North Carolina, Amerika merekayasa DNA bakteri Escherichia coli, menciptakan bacterial computers yang mampu memecahkan permasalahan matematika klasik yang dikenal sebagai Hamiltonian Path Problem.

Para penliti mengembangkan pekerjaan sebelumnya yang dipublikasikan tahun lalu pada jurnal sama untuk menghasilkan bacterial computers yang dapat memecahkan Burnt Pancake Problem.

Hamiltonian Path Problem menanyakan apakah ada sebuah jalan pada suatu jaringan dari simpul awal hingga simpul akhir, menghampiri tiap simpul sesekali. Para peneliti fakultas dan mahasiswa memodifikasi untaian genetic dari bakteri yang memudahkan mereka untuk menemukan jalur Hamiltonian pada suatu grafik simpul tiga. Bakteri yang secara sukses memecahkan suatu permasalahan menunjukan keberhasilan mereka dengan cara memendarkan kedua warna merah dan hijau, menghasilkan pada koloni warna kuning.

Sintetis biologi adalah penggunaan beberapa teknik molekular biologi, prinsip – prinsip rekayasa, dan pemodelan matematikal untuk mendesain dan mengkonstruksi sirkuit genetik yang memudahkan sel – sel hidup untuk membawa fungsi yang bagus. “Peneliti kami mengkontribusikan lebih dari 60 bagian kepada Registry of Standard Biological Parts, yang tersedia bagi penggunaan oleh komunitas sintetis biologi, termasuk protein terbaru fluorescent warna merah yang terbelah dan gen protein fluorescent warna hijau,” kata Jordan Baumgardner, lulusan baru – baru ini dari Missouri Western dan penulis pertama dari makalah penelitian ini. “Penelitian ini menyediakan tidak hanya contoh lain tentang bagaimana hebatnya dan dinamisnya sintetis biologi. Kita menggunakan sintetis biologi untuk memcahkan persoalan matematikal; yang lainnya menemukan beberapa aplikasi di bidang medis, energi dan lingkungan. Sintetis biologi mempunyai potensi besar dalam kehidupan ini.”

Berdasarkan Dr. Eckdahl, penulis yang sama pada artikel ini, sintetis biologi memberikan kesempatan baru bagi sarjana pelatihan penelitian multidisiplin. “Kita telah menemukan bahwa sintetis biologimerupakan suatu cara yang baik untuk melibatkan mahasiswa dalam penelitian yang berhubungan dengan biologi dan matematika. Para mahasiswa kami belajar dari tangan pertama mengenai nilai jalur disiplin tradisional yang bersebrangan.”

sumber:http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/biokimia/%E2%80%9Dbacterial-computers%E2%80%9D-untuk-menuntaskan-permasalahan-matematika-yang-rumit/

Baca Selengkapnya...

Selasa, 26 Januari 2010

Asal Mula Nama "Google" yang Salah Ketik



v
v
v
v
v
v


Pastinya para pembaca sudah sangat kenal degan nama Google. Mesin pencari ini memang sangat familiar dengan para pengguna internet. Mulai dari fasilitas mesin pencari yang sangat cepat, google map, google mail, google translate dan banyak lainnya pastinya anda pernah menggunakannya. Tapi apakah anda tau asal mula kata Google?



Pada tahun 1996 Larry Page dan Sergey Brin membuat sebuah mesin pencari yang mereka sebut dengan nama “BackRub” nama ini berasal dari istilah “Back Link”. Namun pada bulan September 1997 terjadi pembicaraan untuk membahas kemungkinan nama yang baru untuk mesin pencari yang lebih canggih.

Universitas Stanford tempat Google dilahirkan tepatnya di Kantor Lary Page terjadi pembicaraan serius tentang permasalahan ini. Sean Anderson salah satu karyawan Lary Page kemudian mengusulkan nama “googolplex”. Kemudian Lary Page merespon kata itu dengan menyingkat menjadi googol. Googol sendiri memiliki arti sebuah angka yang sangat besar.

Kemudian Lary Page duduk di depan komputer dan mencoba melakukan pengecekan ketersediaan nama nomain Googol untuk didaftarkan. Namun Lary Page salah mengeja dan mengetik nama “google.com” alamat tersebut memang tersedia. Ternyata Lary Page suka dengan nama Google itu, beberapa jam setelah itu Lary Page mendaftarkan nama google.com atas nama dirinya dan Sergey Brin. Nama google.com tercatat pada tanggal 15 September 1997

Sumber:http://kabarit.com/2009/04/asal-nama-google-yang-salah-ketik/
Baca Selengkapnya...

Jumat, 08 Januari 2010

Ilmuwan Ciptakan Baterai dari Kertas

Baterai setipis kertas ini bisa menjadi alternativ di masa depan. Bayangkan jika teknologi ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan hadir menggantikan teknologi baterai yang selama ini kita pakai, tentunya kita akan mendapatkan banyak keuntungan dan kemudahan dengan menggunakan baterai tipis ini.

Para ilmuwan dari berbagai negara sedang berusaha mengembangkan baterai tipis, fleksibel, ringan, murah, dan ramah lingkungan, yang seluruhnya terbuat dari bahan non-logam. Salah satu bahan yang paling menjanjikan untuk beterai ini adalah polimer berdaya-antar. Namun, hingga kini bahan ini kurang praktis dijadikan baterai, karena kemampuannya menyimpan muatan listrik seringkali berkurang seiring pemakaian.


Mudah dibuat

Nah, kunci pembuatan baterai baru ini ternyata alga hijau Cladophora yang seringkali dianggap pengganggu. Tumbuhan air tawar yang mirip rambut ini bertumpuk dan membusuk begitu saja di seluruh dunia, mengganggu pemandangan dan baunya menyengat.

Alga ini memiliki jenis selulosa yang tak lazim, dengan ciri permukaan selulosa yang sangat luas, yaitu 100 kali selulosa kertas biasa. Ini memungkinkan para peneliti untuk melipatgandakan jumlah polimer berdaya-antar, sehingga baterai tersebut lebih efektif untuk diisi lagi, lebih mampu menahan listrik dan menyalurkan daya listrik.

“Kami telah lama mengharapkan penemuan berguna dari materi alga dan kini hal itu memang memungkinkan,” kata peneliti Maria Strømme, pakar nanoteknologi dari Universitas Uppsala, Swedia. “Ini membuka kemungkinan baru untuk produksi skala besar bagi sistem penyimpanan energi yang ramah lingkungan, hemat biaya, dan ringan.”

Baterai jenis baru ini terdiri dari lapisan-lapisan tipis polimer berdaya-antar yang berukuran hanya 40 hingga 50 nanometer, atau dari serat pembungkus selulosa alga selebar satu per semiliar meter, hanya selebar 20 hingga 30 nanometer yang diambil untuk dijadikan lembaran kertas.

“Ini sangat mudah dibuat,” ujar Strømme.

Cepat diisi ulang

Baterai jenis baru ini bisa memuat daya listrik 50 sampai 200 persen lebih banyak dibandingkan baterai polimer berdaya-antar lainnya yang serupa, dan kalau nanti sudah dioptimalkan, mungkin malah bisa bersaing dengan baterai litium. Baterai ini juga bisa diisi ulang jauh lebih cepat daripada baterai isi-ulang biasa – bandingkan baterai biasa setidaknya butuh sejam untuk diisi ulang, sedangkan baterai baru ini hanya perlu 11 detik hingga delapan menit.

Dala pengembangannya, baterai baru ini juga menunjukkan kemajuan pesat dalam hal kemampuan menahan daya seiring pemakaian. Kalau dibanding dengan baterai polimer lainnya yang kapasitas penahanan dayanya turun 50 persen setelah 60 siklus isi-pakai, baterai baru ini cuma kehilangan 6 persen setelah 100 siklus.

“Pada lapisan polimer yang tebal, sulit untuk mengisi ulang seluruh bahan itu dengan benar, malahan bahan itu berubah jadi insulator (penghambat), jadi kapasitasnya malah berkurang,” terang Gustav Nyström, pakar elektrokimia dari Universitas Uppsala. “Kalau lapisannya tipis, seluruh bagiannya bisa menampung dan mengeluarkan daya dengan baik.”

Alat elektronik fleksibel

Para peneliti mengisyaratkan bahwa baterai mereka ini tampaknya cocok dapakai untuk alat elektronik yang fleksibel, seperti bahan kain dan pembungkus.

“Kami tak berniat menggantikan litium atau baterai ion – kami ingin menemukan pemakaian baterai yang belum ada,” ujar Strømme. “Misalnya baterai bisa diisi di balik kertas pelapis dinding untuk menyalakan sensor di rumah anda. Atau bagaimana bila ditaruh dalam pakaian anda, dan dipakai untuk alat pemindai keringat untuk memeriksa bila anda sakit?”

Arah penelitian di masa depan juga memperhitungkan berapa banyak daya yang hilang dari baterai ini seiring waktu, yang merupakan masalah umum bagi baterai polimer dan jenis lainnya. Penelitian juga melihat kemungkinan memperbesar skala baterai jenis baru ini, “Kita lihat bagaimana jadinya bila baterai ini dibuat dalam skala sangat besar.”

Para peneliti menjabarkan hasil terakhir mereka dalam jurnal berjudul 'Nano Letters'

Baca Selengkapnya...

Sabtu, 21 November 2009

Kingston DT300: Flash Disk 256GB Pertama di Dunia


Setelah berhasil menjadi manufaktur pertama yang merilis flash disk 128GB pertama di dunia pada bulan Juni lalu , Kingston kembali mencetak sejarah dengan merilis flash disk 256GB pertama di dunia, DataTraveler (DT) 300. Kapasitas 256GB dapat menampung lebih dari 51.000 gambar (JPEG hasil capture kamera digital dengan resolusi 10MP) dan puluhan ribu music files (ukuran rata-rata 5MB).




Kingston DT300 diklaim memiliki kecepatan read 20MB/s dan write 10MB/s. Kingston juga melengkapi DT300 dengan feature Password Traveler dimana Anda dapat melindungi data Anda dengan proteksi password tanpa membutuhkan hak akses administrator. Selain itu, DT300 juga tetap menggunakan desain cap-less yang melindungi konektor USB ketika tidak digunakan, dan Windows ReadyBoost yang memungkinkan penggunaan flash disk ini sebagai disk cache pada sistem operasi Windows Vista dan Windows 7.

Sumber: http://www.chip.co.id/optical-storage/kingston-dt300-flash-disk-256gb-pertama-di-dunia.html
Baca Selengkapnya...